Setelah kesusahan ada kemudahan

Pagi ini Minggu 19 Desember 2004, aku yang bernama lengkap Arif Hidayat selaku seorang siswa yang baru saja menamatkan diri dari sekolah dasar dan melanjutkan pendidikan di sebuah Pesantren terkemuka di Banda Aceh, Pergi bersama kakakku (Asmaul Husna) ke sebuah super market di Banda Aceh untuk membeli berbagai macam perlengkapan agar membuatku tidak jenuh untuk bertinggal di Pesantren selama lebih kurang 3 tahun. Maklum saja seorang anak yang biasanya selalu mendapat kasih sayang yang berlimpah dari keluarga toh sekarang harus tinggal bersama orang-orang yang belum dikenal.

Pagi itu aku bertanya kepada kakakku, “Kak Una(panggialn akrab kakakku)? Apa Kita hanya pergi berdua saja?”, kak Una pun menjawab, ”Ya enggak lah, kak una dah ajak kak putri (teman lama kak Una waktu SD sekaligus merangkap jabatan sebagai kakak dari teman terdekatku selama di SD), dia juga mau pergi ke super market”. Dalam hati aku merasa senang, karena kalau ada kak Putri pasti suasananya menjadi seru, Apalagi ketika aku dan kak Una yang baru turun dari Labi-labi (Angkutan umum khas orang aceh), disambut oleh kak Putri dan Adil (Adiknya kak putri yang menjadi teman terdekatku dari SD sampai sekarang) yang ternyata sudah lebih dulu berada di Halte sebagai tempat Pos pertemuan kami.

Ketika aku, kak Una, kak Purti dan Adil sedang memilih-milih barang yang kami anggap berguna, aku mulai melepas rindu bersama Adil dengan bercerita tentang berbagai pengalaman baru yang kami dapatkan di bangku SMP, setelah kami tidak berjumpa selama kurang lebih 10 bulan, “menurutku itu adalah waktu yang cukup lama untuk tidak bertemu dengan teman terdekat”. Setelah selesai berbeli di Super market, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya aku kembali ke asrama.

Hari-hari pun berlalu, sekarang sudah malam tepatnya tanggal 25 Desember 2004, aku baru saja pulang dari Mesjid seusai Shalat Maghrib. Seperti biasanya sambil menunggu tibanya waktu shalat ‘Isya, aku dan kawan-kawan bermain-main di asrama. Pada saat itu ada seorang Santri (Panggilan untuk siswa yang bersekolah di Pesantren), yang sedang sakit namanya Achmad. M, ia kelihatan sangat lemah dan suhu badannya sangat tinggi. Orang tuanya yang juga kenalan orangtuaku pun datang untuk menjenguknya, setelah merasakan suhu yang sangat tinggi dari tubuh Achmad, orangtuanya pun meminta izin kepada ustadz yang sedang berpiket untuk memulangkan anaknya ke Rumah karena takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya Achmad pun pulang bersama keluarganya ke Lampulo (daerah tempat tinggal warga yang berada sangat dekat dari laut).

Inna Ma’al ‘Usri Yusra

Dua hari setelah kejadian, aku melihat seorang laki-laki yang mengendarai Skuter menghampiri seorang Ustadz, setelah kudekati ternyata ia adalah ayahku, kami pun meminta izin kepada Ustadz dan pulang kerumah. Sesampai di desa Lamgugop ternyata aku tidak langsung dipulangkan kerumah karena rumahku masih berlumpur akibat Tsunami. Di depan rumah seorang masyarakat desa telah duduk bundaku dengan berlinangan air mata, ketika aku sampai dipeluklah aku sekuat mungkin, dan akupun mendapatkan bahwa anggota keluargaku masih lengkap. Akupun duduk bersama masyarakat sekitar untuk memperceritakan kisahku mengenai petualangan mnghadapi bencana Tsunami.

mesjid baiturrahman tampak kokoh pasca diterjang amukan tsunamiSelanjutnya aku bersama ayah pergi ke kota untuk melihat-lihat keadaan kota pasca-Tsunami, kulihat banyak sekali bangunan-bangunan yang telah diluluh lantakkan oleh gempa dan dan Tsunami, bahkan super market yang baru kudatangi minggu lalu sudah rata dengan tanah, “Alangkah luar biasanya kekuasaan Allahu Ta’ala”. Sesampainya aku di depan mesjid Raya Baiturrahman kudapati Masjid yang masih utuh, namun beberapa tiang di sekitarnya sudah tanpak patah akibat amukan gempa dan Tsunami.

Aku juga melihat banyak mayat bergelimpangan di mana-mana, dengan posisi yang berbeda-beda pula. Anehnya pada saat melihat banyak tubuh-tubuh tak bernyawa tersebut aku sama sekali tidak merasa takut lagi, yang mana biasanya ketika aku menonton film mistis tentunya aku sangat gemetaran ketika melihat dan merasakan ketegangan yang terdapat dalam film tersebut.

Pada hari berikutnya banyak sekali orang-oang luar negeri yang datang ke Aceh untuk menjalankan misi kemanusaiaannya, hari itu aku dipersilahkan untuk mengantri air minum mineral yang dibagikan secara Cuma-Cuma oleh pihak militer Australia. Aku sangat senang untuk mengantri air minum tersebut walaupun antriannya panjang, karena airnya banyak dan kemasan air tersebut sangat menarik.

Pada hari berikutnya aku kembali mengantri air mineral bersama sepupuku. Pada hari ini entah mengapa kemasan yang disediakan sudah dalam ukuran yang lebih kecil sehingga air minumnya pun tidak sebanyak biasanya. Sesampai dirumah aku mendengar pembicaraan saudara-saudaraku yang menceritakan bahwa dalam keadaan yang seperti ini ternyata masih ada saja orang-orang nakal yang menjadi misionaris dan ingin merusak akidah Islam yang tertanam kuat dalam hati masyarakat Aceh. Contohnya adalah baju-baju yang dibagikan secara Cuma-cuma dan bertuliskan kalimat-kalimat yang dapat merusak akidah orang-orang islam yang berdominasi di Aceh, dalam hati aku berkata ”sungguh keterlaluan!!!!!…”.

Pada hari selanjutnya aku tidak keluar rumah, kemudian aku mendengar pembicaraan kak Una dengan seseorang melalui pesawat telepon. aku bertanya, ”Kak Una lagi bicara dengan siapa?”, Lalu kakakku menjawab,”Kak Una lagi bicara dengan kak Putri”. Setelah mendengar kata kak Una aku merasa senang karena kemungkinan besar aku juga bisa bicara dengan Adil. Kemudian aku meminta kakakku apabila sudah selesai berbicara dengan kak Putri untuk memberikannya kepadaku, karena aku sangat ingin berbicara dengan Adil. Dengan muka yang sedih kakakku menghentikan pembicaraan dan menutup telepon dan menghampiriku sambil berkata ”Dek, adek harus terima apapun yang ditakdirkan sama Allah ya!”, akupun menjadi bingung dan bertanya kembali kepada kak Una ”Maksud kak Una tuh, apa?”. Dengan sedih kak Una berkata ”Si Adil dah gak ada lagi dek!”, aku langsung menangis mendengar berita itu, karena ternyata minggu itu adalah pertemuan terakhirku dengan Adil, Akupun terus menangis sampai tertidur.

Hari ini aku berjalan-jalan ke daerah kota kulihat masih ada banyak mayat yang bergelimpangan bahkan sampai hari ini yaitu 1 minggu pasca Tsunami. Semua memang sudah kelihatan mulai membaik seperti jalan-jalan yang mulai dibersihkan, tenda-tenda yang dibangun untuk para korban bencana dan mulai banyaknya warga yang lalulalang di jalan raya walaupun tidak seramai pada saat masa-masa sebelum bencana. Namun entah mengapa masih banyak mayat-mayat bergelimpangan dimana mana tanpa ada yang mengurusnya. kulit mayat tersebut berubah menjadi hitam, melepuh dan menggembung akibat sengatan matahari selama 1 minggu namun tidak ada pula seorangpun yang mau berempati, melainkan hanya sekedar lewat sambil melihat mayat tersebut. ”dimanakah rasa kemanusiaan yang pernah diumbar umbarkan oleh mereka para pemimpin sebelum masa kepemimpinannya”, tanyaku dalam hati.

Beberapa hari kemudian datanglah bala bantuan dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia selaku tuan rumah. Mereka datang sebagai relawan, kebanyakan dari mereka adalahwarga asing, para simpatisan partai ”bla..blaa…blaa” yang tidak dapat aku sebutkan namanya, juga para tentara indonesia yang gagah berani juga ikut ambil alih dalam mengumpulkan mayat, membersihkan berbagai fasilitas umum dan lain sebagainya. Maka mulai saat itulah aku mulai memiliki pandangan positif terhadap para tentara indonesia dimana kebanyakan dari mereka memiliki hati dan jiwa kepahlawanan, walaupun nama mereka sebelumnya sempat jatuh akibat berbagai kekerasan yang dilakukan oleh sebagian dari mereka pada masa DOM (Daerah Otonomi Militer) yang dilancarkan terhadap warga Aceh.

Kini sudah dua bulan berlalu pasca tragedi Tsunami, kini sudah banyak sekali perubahan yang dirasakan oleh masyarakat aceh diantaranya adalah semakin banyaknya bantuan yang datang dari berbagai pihak baik dari segi materil maupun moral, Rekonstruksi yang mulai dilaksanakan untuk membantu para korban bencana dan berbagai jenis bantuan lainnya. Pagi ini ayahku baru pulang dari WarKop (Warung Kopi), biasalah tempat nongkrong bapak-bapak untuk membicarakan berbagai strategi dan masalah yang mungkin akan mereka hadapi dimasa yang akan datang. Ayahku pulang membawa koran yang salah satu iklannya berisikan perintah kepada seluruh santri pesantren tempat aku belajar untuk kembali datang ke sekolah. Mengingat suasana yang semakin konlusif lantas aku langsung berinisiatif untuk kembali pergi ke pesantren untuk menuntut ilmu.

Hari ini aku kembali ke pesantren dan bertemu dengan beberapa orang temanku yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari, disana kami bercerita mengenai pengalaman kami semasa libur pasca Tsunami. Salah satu temanku ternyata memiliki segudang cerita yang sangat menarik, diantaranya adalah ia berkata bahwa pada saat terjangan Tsunami mulai mendekati mesjid raya salah seorang saudaranya melihat ada banyak mahluk yang merupai manusia berbadan tinggi yang menjaga mesjid Raya Baiturrahan dari terjangan Tsunami, sehingga kelihatan oleh warga, air yang tadinya berupa gelombang yang besar dan kencang, ketika mendekati area mesjid raya air tersebut kelihatan tenang bagaikan telaga yang belum pernah disinggahi oleh seorangpun.

Tiba-tiba aku teringat dengan si Achmad yang pulang pada malam minggu sebelum kejadian dan aku langsung menanyakan keadaannya kepada temanku. Dan ternyata salah seorang diantara mereka mengetahui nasib si Ahmad, ternyata ia baik-baik saja namun orang tua perempuannya (Ibu) telah berpulang ke Rahmatullah. Dalam benak ku panjatkan doa ”Ya Allah terimalah beliau di sisimu dan berilah ketabahan hati bagi kerabat yang baru ditinggalkan oleh beliau, amiiinnnn….”.

Hari berganti hari bulan berganti bulan, kini aceh telah mengalami perubahan yang sangat pesat dari sebuah daerah yang luluh lantak diterjang bencana kini telah menjadi aceh yang semakin indah dan damaiwilayah yang dipenuhi oleh berbagai bangunan yang terukir indah serta masyarakatnya yang sangat tertib. Juga dari sebuah wilayah konflik yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, dan ketidak pastian kini telah menjadi wilayah yang sangat damai, terutama sejak dilangsungkannya penandatanganan MoU di Helsisnki, Swedia mengenai perjanjian damai antara RI dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Kini aceh merupakan wilayah yang tidak dapat dipandang sebelah mata lagi oleh pemerintah pusat dikarenakan oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi di aceh.

Pada akhirnya Aku bersyukur di dalam hati, ”Alhamdulillah, Ya Allah sungguh benar apa yang engkau janjikan kepada kami bahwa sesungguhnya setelah kesusahan ada kemudahan (Inna Ma’al ’Usri Yusra)”.

<artikel tertulis dalam bahasa indonesia baku>

~ by labsinfo on December 30, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: