Tangga nada minor

Tangganada minor. Karena tangganada minor relevan juga dengan pelajaran tentang interval, ia pun layak untuk dibicarakan sekarang. Tangganada ini umumnya dipakai untuk menciptakan lagu yang bersuasana introspektif: sedih, muram, berduka, sayu, murung, gelisah.

Tangganada ini pun dibentuk dari tangganada diatonik mayor C. Ia dibentuk dengan mulai dari not A dalam tangganada diatonik mayor C. Dari sejarah perkembangannya, tangganada minor menjadi tiga macam: tangganada minor naturel, harmonik, dan melodik. Yang disebut terakhir berbeda bentuk polanya pada posisi naik dan turun.

Tangganada minor naturel:

A – B – C – D – E – F – G – A

Tangganada minor harmonik:

A – B – C – D – E – F – #G – A

Tangganada minor melodik pada posisi naik:

A – B – C – D – E – #F – #G – A

Tangganada minor melodik pada posisi turun:

A – G – F – E – D – C – B – A

Kata “minor” dalam istilah tangganada ini diperoleh dari mana? Dari pengurangan interval-interval tertentu dalam tangganada diatonik mayor C. Perubahan “mayor” menjadi “minor” dari tangganada diatonik mayor C lebih gampang dijelaskan melalui perbandingan tangganada mayor C dengan tangganada minor naturel. Supaya cermat, setengahnada ditambahkan.

Mayor: C – #C–D–#D – E – F – #F – G –#G – A – #A – B – C
Minor: A——–B – C——-D———E – F———G——-A
Notasi: do——re – ri——-fa——–sol–se——–li——-do

Pasangan setengahnada B-C dan E-F pada tangganada mayor berbeda urutannya dengan yang ada pada tangganada minor. Pasangan B-C minor tidak sama jaraknya dengan pasangan mayor D-E. Pasangan setengahnada B-C minor (dimainkan pada satu fret gitar) sama bunyinya dengan D-#D dalam pasangan D-E mayor, pasangan satunada (dimainkan pada dua fret yang saling berdekatan di gitar). Dengan kata lain, pasangan setengahnada B-C minor merupakan penurunan setengahnada dari pasangan D-E mayor. Sesuai aturan baku (akan dibicarakan lebih jauh dalam pelajaran tentang interval), satu pasangan not mayor menjadi minor kalau salah satu not diturunkan atau dinaikkan menjadi setengahnada. Jadi, pasangan not satunada C-D mayor menjadi minor kalau not di kiri dinaikkan setengahnada – #C-D (di-re) – atau not di kanan diturunkan setengahnada – C-bD (do-ru). Perubahan pasangan not satunada G-A mayor menjadi E-F minor mengikuti aturan yang sama. G-A mayor menjadi G-#G minor yang sama bunyinya dengan E-F minor. Atau G-A mayor menjadi #G-G minor sama bunyinya dengan E-F minor.

Beberapa lagu nasional dan daerah memakai tangganada minor. Syukur, judul suatu lagu nasional ciptaan H. Mutahar, memakai tangganada minor. Lagunya mulai dengan not la dan berakhir dengan not yang sama. Melodi yang memakai not seperti ini dan akord-akord minor yang memperkuat suasananya menunjukkan tangganada minor. Meski suasana dasarnya bersifat minor alias sedih, muram, sayu, murung, kata-katanya malah tidak memberi kesan dasar ini. Kata-kata bait pertama lagu nasional ini, misalnya, bersuasana khidmat karena mengungkapkan rasa syukur, terima kasih.

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah Air pusaka
Indonesia Merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu, Tuhan

Tidak selalu lagu minor bersuasana sedih, introspektif, dan syair Syukur salah satu kekecualian dari aturan umum yang berlaku dalam ilmu musik Barat: tangganada minor dipakai untuk mengungkapkan suasana duka, sedih, sayu, murung.

Aturan umum ini kentara dalam nyanyian gereja dari Barat yang diterjemahkan kemudian ke dalam bahasa Indonesia. Mazmur terbitan Yayasan Musik Gereja (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia 1986) berisi terjemahan dari adaptasi syair-syair mazmur dalam Perjanjian Lama. Terjemahan mazmur ke dalam bahasa Indonesia ini agar dinyanyikan jemaat bersumber pada Mazmur Jenewa abad ke-16, suatu kumpulan nyanyian mazmur yang sangat mengagumkan dari segi sastra dan musik. Lagu-lagu Mazmur Jenewa yang mencerminkan kesenian Reneisens di Eropa abad ke-16 sebenarnya bisa ditelusuri jauh ke belakang sampai dengan musik liturgi Yahudi kuno, termasuk musik liturgi jemaat Kristen awal tarikh Masehi di kawasan yang sekarang bernama Israel, Gaza, dan Tepi Barat – Palestina jajahan Roma kuno zaman itu. Banyak mazmur dalam Perjanjian Lama digubah oleh Daud, gembala, pahlawan, musikus, penyair, jenderal, dan raja tenar Israel kuno sekitar 3000 tahun yang silam.

Salah satu lagu yang mengungkapkan suasana sedih dalam Mazmur tadi adalah Mazmur 6. Melodinya, seperti melodi Syukur, mulai dengan la dan berakhir juga dengan la. Terjemahan Indonesia menyingkap secara menyentuh hati pergumulan batin Daud karena dosa-dosanya terhadap Allah dan permohonannya yang khusyuk agar Allah mengampuni dosa-dosanya. Bait pertama Mazmur Jenewa ini seperti yang diterjemahkan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) demikian:

Sayangi aku, TU-HAN!
Jangan Engkau hukum-kan
hambaMu yang gentar.
Berapa lama lagi
murkaMu kualami?
Sengsaraku besar!


Suatu versi irama flamenko dari Mazmur 6 dan syair yang sama saya ciptakan beberapa tahun yang lalu. Flamenko adalah sejenis musik dan dansa yang erat kaitannya dengan Jipsi, suatu kaum pengembara yang konon berasal dari India. Mereka kemudian menetap di Spanyol dan mengembangkan musik flamenko. Sesuai sejarah awalnya, lagu-lagu flamenko berkembang dari nyanyian ratapan kaum Jipsi, ratapan akan nasibnya yang muram di tanah tumpangannya di Spanyol.

Bait tadi bisa dinyanyikan sambil memainkan gitar atau mengikuti iringan yang sudah ada di side bar blog saya. Gaya cengkok – menyanyikan lebih dari satu not untuk satu suku kata – saya tandai dengan garis pemisah vertikal pada kata TUHAN dan hukumkan; yang dicengkok adalah suku kata TU- dan –kum-. Selebihnya dinyanyikan seperti biasa.

Nyanyian ratapan adalah nyanyian yang bersuasana sedih, murung, sayu. Melodi asli Mazmur 6 tadi lalu dimodifikasi biar sesuai salah satu irama flamenko – yang ini memakai jenis birama 3/4 yang agak cepat – di Spanyol dan sesuai juga dengan suasana sedih yang diungkapkan mazmur ini.

~ by labsinfo on July 8, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: